Persija Menang Telak 4-0, Kwon Chang-hoon Curi Perhatian usai Shin Tae-yong Beri Kepercayaan di Lini Serang

Persija Jakarta menang telak 4-0 atas PSIM Yogyakarta membuat satu nama yang hampir terlupakan di sepak bola Asia kembali mencuat ke permukaan, dan namanya bukan Shin Tae-yong.


Kwon Chang-hoon mencetak gol debutnya untuk Persija di menit ke-87, sebuah momen yang mungkin terasa biasa bagi sebagian orang tapi punya resonansi yang jauh lebih dalam daripada sekadar angka di papan skor.

Saya sudah lama mengamati bagaimana sepak bola Indonesia sering kali terlalu cepat melabeli pemain asing sebagai “pensiunan” atau “bara api yang padam” hanya karena mereka sudah melewati usia 30 tahun, padahal Kwon baru berusia 32 tahun ketika ia tiba di Jakarta pada Juli 2026.

Ironi terbesar dari narasi ini adalah media Korea Selatan yang justru lebih menghargai kebangkitan Kwon daripada sebagian pengamat lokal kita sendiri, dengan MHN Sports dan Sportalkorea secara khusus menyoroti kontribusinya dalam kemenangan beruntun Persija.

Kwon Chang-hoon bukan pemain sembarangan, dan ini yang sering dilupakan orang ketika mereka melihat angka transfermarkt yang katanya menurun drastis menjadi sekitar Rp5,21 miliar dari puncaknya Rp130 miliar bersama Dijon.

Mantan pemain SC Freiburg dan Dijon FCO ini pernah tampil di Piala Dunia 2022 Qatar, masuk sebagai pengganti saat Korea Selatan menghadapi Ghana, dan mencatatkan 43 caps bersama Timnas Korea Selatan dengan 12 gol.

Tapi yang paling menarik dan jarang dibahas adalah relasi personalnya dengan Shin Tae-yong yang sudah terjalin sejak tahun 2017-2018, ketika STY menangani Timnas Korea Selatan dan Kwon masih berjuang menembus skuad senior untuk Piala Dunia 2018 di Rusia.

Kwon tidak masuk dalam skuad final ke Rusia, dan mungkin ada luka kecil di sana, sebuah cerita yang tidak pernah menjadi headline tapi tersimpan rapi dalam buku catatan perjalanan keduanya hingga akhirnya mereka dipertemukan kembali di Jakarta dengan peran yang berbeda.

Dampak Kwon terhadap lini serang Persija musim ini tidak bisa diukur hanya dari satu gol dan satu assist, dan inilah bagian yang menurut saya paling menarik untuk dibedah secara lebih kritis.

Ada pola yang saya perhatikan dari bagaimana STY menggunakan Kwon di tiga pertandingan awal sebelum PSIM, di mana ia lebih sering ditempatkan sebagai second striker yang bergerak bebas, bukan sebagai winger konvensional yang terpaku di sisi kanan atau kiri.

Fleksibilitas posisi ini membuat pertahanan lawan kesulitan menetapkan siapa yang harus dijaga, dan ketika Stjepan Loncar mulai menemukan ritme permainannya dengan brace di menit 81 dan 90+4, ruang yang tercipta di sekitar kotak penalti sering kali berasal dari pergerakan Kwon yang menarik bek keluar dari posisinya.

Alexander Jeremejeff yang membuka keunggulan di menit 77 juga mendapat manfaat dari kekacauan yang diciptakan Kwon beberapa saat sebelum gol tersebut, meski tidak tercatat sebagai assist secara resmi.

Saya menemukan satu data menarik yang mungkin terlewat dari perhatian banyak orang, yaitu ketika Persija melumat Persebaya 3-0 pada April 2026 di bawah pelatih sebelumnya Mauricio Souza, ada perbedaan filosofis yang sangat kontras dengan cara STY membangun serangan saat ini.

Souza lebih mengandalkan transisi cepat dan individu, sementara STY membangun pola di mana Kwon Chang-hoon berfungsi sebagai jembatan antara lini tengah dan lini depan, menghubungkan Fabio Calonego di belakang dengan Loncar atau Jeremejeff di depan.

Penyerapan informasi taktis ini tidak terjadi dalam semalam, dan ada quote dari Kwon sendiri ketika diperkenalkan bahwa Shin Tae-yong menjadi alasan utama ia memilih Persija di atas kemungkinan lain.

“Bagi saya, ini adalah sebuah tantangan besar. Ketika masih bermain di Korea Selatan, saya melihat coach Shin Tae-yong bekerja di Indonesia,” ujar Kwon yang mengaku mengikuti perkembangan sepak bola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Ada humor kecil yang tidak bisa saya lewatkan di sini, karena pria ini datang ke Indonesia setelah melihat STY berjuang membangun Timnas, dan sekarang ia justru menjadi bagian dari proyek yang sedang berusaha dibangun STY di level klub.

Analisis yang lebih tajam terhadap performa Kwon memerlukan konteks tentang bagaimana sepak bola Indonesia berevolusi, terutama dalam hal kesabaran suporter terhadap pemain yang tidak langsung bersinar di dua atau tiga laga pertama.

The Jakmania punya sejarah panjang dalam mengkultuskan pemain asing yang bisa beradaptasi cepat, tapi mereka juga dikenal cepat melupakan pemain yang gagal menunjukkan konsistensi, dan Kwon berada di zona abu-abu di antara keduanya saat ini.

Media Korea Selatan, terutama MHN Sports, menulis dengan nada yang sedikit arogan ketika mengabarkan perkembangan STY di Indonesia, tapi ada satu kalimat yang layak dicermati, yaitu ketika mereka menyebut “Kwon Chang-hoon bersinar dengan gol debut dan 1 assist” sebagai bagian dari narasi kebangkitan pengaruh Korea di sepak bola Asia Tenggara.

Saya tidak sepenuhnya setuju dengan framing tersebut, karena Kwon bukan proyek kolonialisme sepak bola, ia adalah pemain profesional yang mencari babak baru dalam kariernya, dan Persija adalah tempat di mana ia mendapatkan kombinasi antara kepercayaan pelatih, menit bermain, dan tantangan baru yang tidak ia dapatkan di Jeju SK.

PSIM Yogyakarta, sebagai lawan dalam pertandingan ini, sebenarnya bukan tim sembarangan, dan ada satu detail yang jarang disorot, yaitu bahwa PSIM adalah salah satu klub dengan basis suporter paling militan di Jawa Tengah dan DIY, sehingga kemenangan 4-0 di Stadion Sultan Agung bukan sekadar tiga poin biasa.

Tekanan dari tribun, kondisi lapangan yang tidak selalu ideal, dan intensitas derby lokal Jawa menciptakan lingkungan yang tidak ramah bagi tim tamu, dan fakta bahwa Persija justru mencetak tiga gol dalam rentang 13 menit menunjukkan adanya perubahan mentalitas yang signifikan di bawah STY.

Saya ingin menawarkan sudut pandang yang mungkin jarang terdengar, yaitu bahwa kehadiran Kwon Chang-hoon sebenarnya membantu membuka ruang untuk pemain muda Indonesia seperti Arliansyah Abdulmanan yang di beberapa laga sebelumnya menjadi kreator utama.

Ketika bek lawan mulai terbiasa dengan pergerakan Kwon, ada lebih banyak ruang di sisi yang ditinggalkan, dan ini menciptakan ekosistem serangan yang lebih berlapis, sesuatu yang tidak terlihat di musim-musim sebelumnya ketika Persija terlalu bergantung pada satu atau dua pemain kunci saja.

Nasehat saya untuk para penggemar sepak bola Indonesia, khususnya The Jakmania, adalah jangan terburu-buru menuntut Kwon mencetak gol di setiap pertandingan, karena peran gelandang serang seperti dia sering kali tidak terlihat di highlight tapi dampaknya terasa di aliran permainan secara keseluruhan.

Seorang pelatih pernah mengatakan kepada saya dalam sebuah diskusi santai bahwa pemain seperti Kwon Chang-hoon adalah “pemain yang membuat pemain lain terlihat lebih baik”, dan itu adalah kualitas yang tidak bisa diukur dengan statistik sederhana seperti jumlah gol atau assist.

Saya juga ingin memberikan catatan kritis terhadap narasi media Korea yang menyebut STY sedang “melanjutkan kesuksesan di Indonesia”, karena Liga Indonesia dan Timnas Indonesia adalah dua ekosistem yang sangat berbeda dalam hal tekanan, ekspektasi, dan dinamika internal.

Bersama Timnas, STY punya waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkan satu pertandingan, sementara di level klub ia harus menghadapi pertandingan setiap empat atau lima hari dengan rotasi pemain yang terbatas dan tekanan langsung dari suporter serta manajemen.

Kesabaran adalah kata kunci yang harus dipegang oleh semua pihak, karena jika kita melihat bagaimana Mauricio Souza pada musim 2025-2026 membutuhkan waktu untuk menemukan formula yang tepat meski pada akhirnya ia bisa membawa Persija bersaing di papan atas.

STY memiliki keunggulan dalam hal pengalaman menangani pemain Korea Selatan dan pemahaman tentang sepak bola Asia, tapi ia juga menghadapi tantangan yang tidak ia jumpai di Timnas, yaitu manajemen ego pemain asing yang datang dari berbagai latar belakang berbeda.

Ada satu hal yang saya ingin garis bawahi tentang Kwon Chang-hoon, yaitu bahwa ia adalah tipe pemain yang tidak banyak bicara di media sosial tapi bekerja keras di lapangan, dan dalam budaya sepak bola Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh narasi media sosial, pemain seperti dia sering kali tidak mendapatkan panggung yang sepadan dengan kontribusinya.

Jika ia terus menunjukkan performa seperti yang kita lihat melawan PSIM, bukan tidak mungkin nilai pasar Kwon yang saat ini anjlok bisa kembali naik dan membungkam kritik yang sempat muncul ketika Persija mengumumkan perekrutannya pada Juli 2026.

Apa yang ingin kalian tahu tentang Kwon Chang-hoon dan proyek baru Persija di bawah Shin Tae-yong?

Apakah menurut kalian kombinasi pelatih Korea dan pemain Korea di klub Indonesia adalah model yang bisa direplikasi, atau justru berisiko menciptakan ketergantungan yang tidak sehat?

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia dari sumber publik per Oktober 2026, dan analisis yang disajikan adalah interpretasi penulis terhadap data dan pernyataan yang dikutip, bukan representasi resmi dari pihak mana pun yang disebutkan dalam artikel ini.

Iklan Atas Artikel

close

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel