Teaser “12 o’clock” JxJ SEVENTEEN: Sinyal Baliknya Dua Pemimpi yang Ogah Main Aman di 19 Oktober

Kalau kalian tipe orang yang suka nungguin teaser K-pop tengah malam sambil mata setengah lima, sambil mikir “ini jam berapa sih di Korea, aku kok masih bangun”, tenang, kalian nggak sendirian, dan Jeonghan sama Joshua kayaknya paham banget ritme hidup kaum rebahan yang hobi overthinking ini.


Saya tuh sebenarnya udah curiga sejak beberapa minggu lalu, waktu nama JxJ mulai muncul di timeline dengan cara yang halus banget, kayak teman yang ngajak nongkrong tapi nggak pernah bilang mau ke mana, dan sekarang setelah teaser “12 o’clock” resmi nongol, baru deh semuanya masuk akal, dua orang paling santai di SEVENTEEN ini memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak santai sama sekali.

Judulnya DREAMSCAPE, rilis 19 Oktober jam 6 sore waktu Korea, dan kalau dihitung-hitung pakai jam dinding warung kopi, itu berarti sekitar jam 4 sore WIB, waktu yang pas buat kita duduk manis sambil pegang HP dan pura-pura nggak panik.

Tapi sebelum kita masuk terlalu dalam ke lorong mimpi Jeonghan dan Joshua, saya mau jujur satu hal dulu, saya bukan tipe penggemar yang hafal semua tanggal comeback, saya lebih tipe yang baru sadar ada rilisan baru setelah tiga hari kemudian dan itu pun karena algoritma TikTok kasih potongan video yang bikin saya berhenti scroll, jadi kalau di artikel ini saya kelihatan terlalu antusias, anggap saja itu efek samping dari algoritma yang terlalu pintar membaca ketertarikan saya pada duo vokal yang satu ini.

Sekarang mari kita bedah pelan-pelan, karena teaser “12 o’clock” ini bukan cuma soal dua cowok ganteng berdiri di depan jam besar sambil tatapan misterius, ada lapisan makna yang kalau kita telusuri lebih jauh, sebenarnya cukup nakal dan cerdas.

Pertama, soal angka 12 itu sendiri, dalam konsep DREAMSCAPE, angka 12 bukan sekadar penunjuk waktu, dia adalah titik temu antara siang dan malam, antara dunia nyata dan dunia bawah sadar, antara Joshua yang kalem dan Jeonghan yang kalau lagi iseng bisa bikin seluruh grup kena imbasnya .

Jadi ketika mereka memilih “12 o’clock” sebagai judul lagu utama, itu bukan pilihan random, itu adalah deklarasi bahwa album ini akan bermain di wilayah abu-abu, di batas yang kabur antara apa yang kita alami saat bangun dan apa yang kita rindukan saat tertidur.

Lalu ada detail yang mungkin terlewat kalau kalian cuma nonton teaser sambil scroll komentar, yaitu soal Ouroboros, ular yang memakan ekornya sendiri, simbol kuno tentang siklus tanpa akhir, tentang sesuatu yang berulang, tentang pertemuan yang nggak pernah benar-benar selesai, dan simbol ini muncul berulang kali dalam berbagai materi promosi JxJ .

Dalam konteks DREAMSCAPE, Ouroboros ini bukan sekadar pajangan artistik, dia adalah metafora tentang dua orang yang terus-menerus bertemu di dunia mimpi, terjebak dalam lingkaran yang mereka nikmati sendiri, dan mungkin, dalam beberapa hal, ini juga representasi dari hubungan Jeonghan dan Joshua sebagai sahabat yang udah lewat sepuluh tahun lebih bareng-bareng, yang kalau dipikir-pikir memang punya pola siklus yang lucu, kadang saling ngeledek, kadang saling jaga, kadang ya udah kayak dua orang yang udah bosan tapi tetap sayang.

Nah, yang bikin saya makin yakin bahwa DREAMSCAPE ini bakal jadi rilisan yang menarik bukan cuma dari sisi musikal, tapi dari sisi konsep, adalah pilihan Jeonghan dan Joshua untuk terlibat langsung dalam penulisan lagu, Joshua tercatat sebagai penulis dan komposer untuk “Not Personal” dan juga terlibat di “No looking back”, sementara Jeonghan ikut menulis “Coloring” .

Ini penting karena dalam unit-unit sebelumnya di SEVENTEEN, kita sering melihat pola di mana satu atau dua anggota mendominasi proses kreatif, tapi di sini, dua-duanya dapat panggung masing-masing untuk menunjukkan warna musik mereka tanpa harus saling mengalahkan.

Dan kalau kita lihat tracklist lengkapnya, ada tujuh lagu yang bakal mengisi DREAMSCAPE, dimulai dari “Like you” yang katanya punya nuansa house dengan synthesizer berlapis yang bikin tenggelam, lalu “12 o’clock” sebagai title track yang menurut bocoran sana-sini mengusung gaya dance rock dengan sentuhan disko dan funk era 70-80an yang di-reinterpretasi secara modern, kemudian “Outside” dengan electric piano yang santai, “One plus one” yang berbasis R&B dan soul, dua lagu solo, dan ditutup dengan “No looking back” yang katanya punya tekstur rock yang lebih kasar .

Saya nggak tahu kalian gimana, tapi melihat daftar itu, saya langsung kepikiran satu hal, ini bukan album yang bisa diputar sambil nyetir di jalan tol sambil fokus, ini album yang butuh kalian duduk, pakai headphone yang lumayan bagus, dan biarkan diri kalian sedikit terbawa, karena kalau menurut pengalaman saya mendengarkan rilisan SEVENTEEN belakangan ini, mereka punya kebiasaan bikin lagu yang awalnya terdengar sederhana tapi setelah tiga kali putar baru kerasa lapisan-lapisannya.

Tapi mari kita keluar sebentar dari urusan tracklist dan bicara soal sesuatu yang lebih membumi, yaitu strategi rilis dan bagaimana JxJ ini sebenarnya ditempatkan dalam ekosistem SEVENTEEN yang sudah sangat gemuk dengan berbagai subunit.

Kita sudah punya DxS yang sukses luar biasa dengan “Blue” sampai-sampai menembus chart viral Spotify di beberapa negara termasuk Indonesia, kita sudah punya BSS yang selalu jadi obat stres kolektif, kita sudah punya CxM, HxW, JxW, dan sekarang JxJ hadir sebagai unit yang mungkin paling “dewasa” secara musikal, bukan dalam arti serius dan membosankan, tapi dalam arti mereka punya kebebasan untuk bereksperimen tanpa harus memikirkan tuntutan performa grup besar .

Dan di sinilah letak nilai tambah yang mungkin nggak banyak dibahas orang, JxJ itu semacam laboratorium, tempat di mana dua anggota yang sudah cukup lama di industri ini bisa mencoba hal-hal yang nggak selalu cocok untuk SEVENTEEN secara keseluruhan, dan kalau berhasil, bukan nggak mungkin elemen-elemen dari DREAMSCAPE ini bakal merembes ke arah musik grup di masa depan.

Ini bukan ramalan kosong, ini pola yang sudah kita lihat berkali-kali dalam sejarah K-pop, unit jadi tempat uji coba, dan yang bertahan akan diadopsi oleh grup utama.

Sekarang saya mau sedikit membahas soal teaser itu sendiri, karena ada satu hal yang mengganggu pikiran saya sejak pertama kali lihat, yaitu ekspresi Jeonghan dan Joshua.

Kalau biasanya dalam teaser K-pop kita disuguhi tatapan tajam penuh misteri atau senyum samar yang bikin penasaran, di teaser “12 o’clock” ini saya merasa melihat sesuatu yang lebih jujur, semacam kebingungan yang menyenangkan, seperti dua orang yang baru bangun tidur dan nggak yakin apakah mereka masih bermimpi atau sudah di dunia nyata, dan itu cocok banget dengan konsep DREAMSCAPE yang memang ingin menyatukan dua dunia tersebut .

Ada juga adegan di mana Joshua masuk ke ruangan tempat Jeonghan tidur, dan di akhir video, Joshua membuka pintu dan menemukan Jeonghan yang sama, masih tertidur, seolah waktu berputar dan nggak ada yang berubah, dan kalau dipikir-pikir, ini adalah metafora yang cukup menyentuh tentang persahabatan yang sudah berjalan lama, di mana kalian bisa masuk keluar dari kehidupan satu sama lain dan tetap menemukan orang yang sama di tempat yang sama .

Tapi mungkin saya terlalu jauh membaca simbolisme, bisa jadi sutradara video itu cuma pengen bikin visual yang estetik dan itu sah-sah aja, toh kita juga nggak perlu memaksakan makna ke dalam setiap frame.

Berbicara soal tanggal rilis, 19 Oktober itu sebenarnya cukup strategis, karena kalau kita lihat kalender K-pop tahun ini, Oktober memang sedang ramai-ramainya dengan berbagai comeback dan debut, tapi JxJ punya keunggulan yang mungkin nggak dimiliki unit lain, yaitu basis penggemar SEVENTEEN yang sudah sangat solid dan terbiasa dengan konsep subunit.

Pre-order albumnya sendiri sudah dibuka sejak 23 September, dan menurut informasi resmi dari agensi, album fisiknya tersedia dalam beberapa versi seperti Daydreamers, Dreamchasers, dan Dream Record, yang pastinya bikin dompet para penggemar menjerit dalam bahasa Korea .

Dan kalau kalian tipe yang suka membeli album fisik bukan cuma karena musiknya tapi karena photocard dan poster, maka kalian pasti sudah tahu bahwa ini adalah bagian dari strategi yang memang dirancang untuk membuat kalian rela makan mie instan selama seminggu, dan saya nggak akan menghakimi, karena saya juga pernah di posisi itu.

Sekarang mari kita bicara soal sesuatu yang lebih serius tapi tetap santai, yaitu tentang bagaimana JxJ ini sebenarnya bisa menjadi jawaban atas pertanyaan yang sering muncul di kalangan penggemar, “apakah SEVENTEEN itu terlalu besar untuk sesuatu yang intim?”

Kita tahu bahwa SEVENTEEN punya 13 anggota, dan dalam formasi sebesar itu, pasti ada momen-momen di mana suara individu tenggelam dalam harmoni kolektif, dan itu bukan kesalahan, itu memang konsekuensi dari menjadi grup besar.

Tapi dengan JxJ, kita diberi ruang untuk mendengar Jeonghan dan Joshua berbicara, bernyanyi, dan mengekspresikan diri mereka tanpa harus berbagi panggung dengan sebelas orang lainnya, dan bagi saya pribadi, ini adalah kemewahan yang jarang terjadi, karena kedua orang ini punya kualitas vokal yang kalau boleh jujur, agak underrated dalam diskografi SEVENTEEN secara keseluruhan.

Jeonghan punya warna suara yang lembut tapi bisa menjadi sangat tajam ketika dia mau, sementara Joshua punya tekstur yang lebih dalam dan tenang, dan ketika dua suara ini bertemu, mereka menciptakan sesuatu yang bukan cuma harmonis secara musikal, tapi juga nyaman didengar dalam jangka panjang, jenis suara yang nggak bikin telinga cepat lelah .

Dan mungkin inilah alasan mengapa mereka dipilih sebagai unit, bukan karena mereka paling vokal, tapi karena kombinasi mereka menghasilkan sesuatu yang seimbang.

Saya juga ingin menyentuh sedikit soal konser atau showcase yang kabarnya akan menyusul setelah perilisan album, karena ini adalah bagian yang sering terlupakan ketika kita membahas comeback, padahal bagi banyak penggemar, momen melihat lagu-lagu baru dibawakan secara langsung adalah puncak dari segalanya.

Menurut informasi yang beredar, setelah DREAMSCAPE rilis, Jeonghan dan Joshua akan memulai tur yang dimulai dari Incheon pada akhir Oktober, lalu berlanjut ke beberapa kota termasuk Saitama, Makau, Taipei, Busan, dan Hong Kong .

Buat penggemar di Indonesia, tentu saja ini menimbulkan harapan, meskipun belum ada pengumuman resmi soal konser di Jakarta atau kota lain, tapi kita boleh berharap sambil tetap realistis, karena seperti yang kita tahu, kalau ada rezeki, nggak ke mana.

Dan kalau melihat antusiasme penggemar Indonesia terhadap SEVENTEEN selama ini, mulai dari konser sampai acara brand yang bahkan cuma dihadiri satu anggota bisa bikin Plaza Senayan penuh sejak subuh, maka peluang JxJ mampir ke sini sebenarnya cukup terbuka .

Tapi oke, mari kita berhenti sejenak dari euforia dan melakukan apa yang selalu saya lakukan ketika menulis tentang sesuatu yang saya sukai, yaitu mencari sisi kritisnya.

Apakah DREAMSCAPE ini bisa gagal?

Secara komersial, kemungkinan besar tidak, karena penggemar SEVENTEEN terkenal setia dan album fisik pasti laku, tapi secara artistik, ada risiko bahwa konsep “mimpi” yang diusung bisa terasa generik kalau eksekusinya nggak matang, karena kita sudah terlalu sering melihat album K-pop dengan tema mimpi, fantasi, dan dunia bawah sadar, sampai-sampai kata “dream” sendiri kehilangan bobotnya.

Tapi di sinilah saya merasa ada satu hal yang menyelamatkan JxJ dari jebakan itu, yaitu chemistry antara Jeonghan dan Joshua yang bukan dibuat-buat, mereka sudah kenal lebih dari satu dekade, mereka sudah melewati berbagai fase kehidupan bersama, dan ketika dua orang dengan sejarah sepanjang itu menyanyikan lagu tentang mimpi dan kenyataan, ada lapisan emosi yang sulit dipalsukan.

Jadi kalau saya boleh memberikan satu nasihat, dengarkan DREAMSCAPE nanti bukan sebagai album K-pop pada umumnya, tapi sebagai semacam surat panjang dari dua orang yang sudah cukup lama berjalan bersama dan sekarang memutuskan untuk berhenti sejenak dan melihat ke belakang, ke depan, dan ke dalam diri mereka sendiri.

Oh iya, sebelum saya lupa, ada satu hal teknis yang mungkin berguna buat kalian yang berencana membeli albumnya, karena saya tahu di antara pembaca ada yang tipe pembeli cermat dan nggak mau salah versi.

Album DREAMSCAPE tersedia dalam beberapa format, dan seperti biasa, versi yang berbeda punya isi yang berbeda, jadi kalau kalian mengoleksi photocard, pastikan kalian cek detailnya baik-baik sebelum checkout, karena saya pernah berada di posisi salah beli versi dan harus menerima kenyataan bahwa photocard yang saya dapat bukan yang saya harapkan, dan itu adalah pelajaran hidup yang mahal .

Untuk harga, versi standar di Jepang dijual sekitar 3.388 yen, sementara versi Dream Record sedikit lebih murah di 2.662 yen, dan harga di Indonesia tentu akan bervariasi tergantung toko dan ongkos kirim .

Sekarang saya mau mengajak kalian melakukan sesuatu yang agak berbeda, yaitu membayangkan skenario di mana kita semua bisa mendengarkan DREAMSCAPE untuk pertama kalinya pada 19 Oktober nanti.

Bayangkan kalian sudah punya rencana, mungkin pulang lebih awal dari biasanya, atau menolak ajakan nongkrong teman dengan alasan yang agak dibuat-buat, lalu duduk di kamar, pakai headphone, dan menekan play.

Lagu pertama “Like you” mulai mengalun, dan kalian langsung diseret ke dalam suasana yang aneh tapi akrab, seperti berada di tempat yang belum pernah dikunjungi tapi terasa seperti rumah.

Kemudian “12 o’clock” masuk dengan bass yang menghentak, dan kalian mulai mengangguk-angguk tanpa sadar, dan di titik itu, kalian tahu bahwa album ini bukan sekadar kumpulan lagu, tapi sebuah perjalanan yang sudah dirancang dengan cermat.

Dan ketika lagu terakhir “No looking back” berakhir, kalian mungkin akan duduk diam sebentar, mencoba mencerna apa yang barusan kalian dengar, dan mungkin, kalau kalian sepert saya, kalian akan langsung memutar ulang dari awal karena belum siap untuk keluar dari dunia itu.

Tapi tentu saja, saya nggak mau terdengar seperti sedang menjual mimpi, karena pada akhirnya, DREAMSCAPE adalah produk hiburan, dan hiburan itu sifatnya subjektif.

Mungkin kalian akan suka, mungkin juga biasa saja, dan dua-duanya nggak apa-apa, karena yang penting adalah kalian memberi kesempatan pada karya ini untuk berbicara pada kalian dengan caranya sendiri.

Dan kalau ternyata kalian nggak suka, setidaknya kalian sudah mencoba, dan itu lebih baik daripada cuma ikut-ikutan hype tanpa pernah benar-benar mendengarkan.

Saya juga ingin menyampaikan satu hal yang mungkin agak personal, yaitu tentang bagaimana saya melihat Jeonghan dan Joshua sebagai duo.

Dalam banyak wawancara dan konten variety, mereka sering ditampilkan sebagai dua orang yang paling nggak cocok untuk ditempatkan bersama, Jeonghan terlalu usil, Joshua terlalu kalem, tapi justru di ketidakcocokan itu ada dinamika yang menarik, karena mereka saling melengkapi dengan cara yang nggak selalu terlihat di permukaan.

Jeonghan mungkin akan mendorong Joshua keluar dari zona nyamannya, sementara Joshua mungkin akan menjadi jangkar yang menahan Jeonghan ketika dia terlalu jauh melayang, dan dalam musik, dinamika seperti ini bisa menghasilkan sesuatu yang sangat kaya.

Jadi ketika saya mendengar bahwa mereka akan merilis album bersama, reaksi pertama saya bukan “oh pasti bagus” tapi “oh ini bakal menarik untuk dilihat bagaimana mereka mengelola perbedaan mereka dalam satu karya”, dan sampai sekarang, saya masih penasaran dengan jawabannya.

Baiklah, saya rasa kita sudah cukup jauh membahas teaser, tracklist, konsep, dan segala hal yang menyertainya, dan sekarang saatnya saya menagih sesuatu dari kalian.

Pertanyaan saya sederhana, dan saya benar-benar ingin tahu jawabannya, bukan cuma formalitas di akhir artikel.

Apa yang paling kalian tunggu dari DREAMSCAPE-nya JxJ?

Apakah kalian tim yang menunggu lagu ballad-nya Joshua, atau kalian tim yang nggak sabar dengar Jeonghan bereksperimen dengan warna vokal yang berbeda, atau mungkin kalian seperti saya, yang sebenarnya cuma ingin melihat apakah mereka akan membawakan lagu-lagu ini di konser dengan koreografi yang nggak terlalu rumit tapi tetap estetik?

Ceritakan di kolom komentar, dan kalau kalian punya teman yang juga penasaran dengan rilisan ini, nggak ada salahnya membagikan artikel ini ke mereka, setidaknya kalian punya teman untuk mendiskusikan teaser berikutnya sambil menunggu tanggal 19 Oktober tiba.

Dan sebelum saya tutup, izinkan saya memberikan satu nasihat kecil yang mungkin terdengar klise tapi tetap relevan, yaitu jangan terlalu serius menunggu sesuatu yang belum terjadi.

Saya tahu, teaser itu memang dirancang untuk membuat kita penasaran dan sedikit gelisah, tapi ingatlah bahwa tanggal 19 Oktober akan datang pada waktunya, dan ketika hari itu tiba, kalian akan mendengarkan DREAMSCAPE, dan hidup akan berjalan seperti biasa.

Jadi nikmati saja prosesnya, nikmati teaser-teaser yang ada, nikmati obrolan dengan sesama penggemar, dan jangan lupa untuk tetap makan, tidur, dan sesekali keluar rumah, karena sebagus apa pun sebuah album, dia nggak akan bisa menggantikan sinar matahari dan udara segar, meskipun kadang-kadang lagu yang bagus bisa membuat hari yang buruk terasa lebih ringan.

Disclaimer: Artikel ini ditulis berdasarkan informasi yang tersedia untuk publik hingga tanggal penulisan, dan setiap detail mengenai tanggal rilis, daftar lagu, serta informasi promosi dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan agensi dan penyelenggara. Penulis bukan bagian dari PLEDIS Entertainment maupun SEVENTEEN, dan tidak menerima kompensasi dalam bentuk apa pun dari pihak-pihak terkait. Semua opini yang disampaikan adalah pandangan pribadi penulis sebagai penikmat musik, dan tidak mewakili pandangan resmi media tempat artikel ini diterbitkan. Jika terdapat ketidaksesuaian informasi di kemudian hari, penulis tidak bertanggung jawab atas keputusan yang diambil pembaca berdasarkan artikel ini.

Iklan Atas Artikel

close

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel