Setter Utama Hyundai Hillstate Kim Da-in Buka-bukaan Soal Karakter dan Kualitas Megawati Hangestri yang Bikin Tim Makin Ganas di V-League
10/10/2026
Kalau kamu penggemar bola voli sejati yang suka ngikutin geliat V-League Korea Selatan pasti sudah dengar kabar yang bikin jantung deg-degan akhir-akhir ini ketika setter andalan Hyundai Hillstate yang juga jagoan Timnas Korea Selatan itu tiba-tiba buka suara soal rekan barunya dari Indonesia yang dikenal dengan julukan Megatron itu dan ceritanya bukan sekadar pujian biasa melainkan pengakuan jujur yang penuh rasa hormat sekaligus sedikit rasa takut yang tertahan karena dulu pernah merasakan langsung kerasnya spike lawan yang sekarang jadi kawan.
Saya sendiri waktu pertama kali baca pernyataan Kim Da-in yang bilang Mega memang Mega dan sebagai setter memiliki penyerang yang mampu mencetak poin di situasi sulit membuat permainan jauh lebih mudah dikelola serta kepribadiannya yang hebat cocok dengan gaya tim langsung terbayang momen-momen lawas ketika keduanya masih berdiri di sisi berlawanan di lapangan dan bola keras dari tangan Megawati Hangestri sempat membuat sang setter tersungkur sampai tangannya merah padahal sekarang justru dia yang harus memanjakan umpan untuk spiker yang sama.
Bayangkan saja ironinya hidup di dunia olahraga profesional kadang lebih dramatis daripada sinetron karena yang dulu jadi korban serangan sekarang jadi pemasok bola utama dan justru dari situ muncul chemistry yang dicari-cari pelatih Kang Sung-hyung untuk membangun serangan sayap yang lebih agresif di musim 2026/2027 ini setelah Hillstate memutuskan mengubah pola dari yang dulu lebih mengandalkan middle blocker menjadi lebih aktif menggunakan opposite dan outside hitter.
Kim Da-in yang sudah bergabung dengan klub sejak draft 2017 dan kini digaji dengan kontrak 540 juta won yang termasuk tertinggi untuk posisi setter di liga itu tentu bukan orang sembarangan dalam membaca karakter penyerang dan dia melihat di Megawati bukan hanya power spike yang bisa mencapai lebih dari seratus kilometer per jam melainkan juga kemampuan menyelesaikan bola di situasi sulit yang membuat dirinya sebagai pengatur serangan merasa lebih lega karena ada opsi andalan ketika skor ketat atau blok lawan sudah menutup hampir semua celah.
Saya pribadi sebagai orang yang sudah bertahun-tahun mengikuti perkembangan voli putri Asia selalu bilang ke teman-teman di warung kopi atau di grup chat bahwa setter hebat saja tidak cukup kalau tidak punya finisher yang tahan banting dan sebaliknya spiker kelas dunia juga akan kesulitan kalau umpan yang datang selalu meleset atau telat sehingga ketika Kim Da-in mengakui kualitas Megawati itu sebenarnya dia sedang mengakui bahwa tugasnya jadi lebih ringan dan itu adalah pujian tertinggi yang bisa diberikan seorang setter kepada opposite-nya.
Pernah suatu kali dalam video resmi klub yang diunggah di YouTube Hyundai Hillstate sang setter bercerita sambil tertawa kecil bahwa pukulan Mega dulu sangat sakit sampai tangan merah sementara pukulan pemain lain tidak seberapa dan sekarang cerita itu berubah jadi bahan candaan internal tim karena yang dulu memukul sekarang justru menunggu umpan dari yang dipukul dulu dan menurut saya ini adalah contoh sempurna bagaimana olahraga bisa mengubah rivalitas menjadi sinergi yang produktif.
Karakter Megawati yang disebut cocok dengan gaya tim oleh Kim Da-in sebenarnya sudah terlihat sejak dia masih di Red Sparks dulu ketika dia mampu beradaptasi dengan cepat meski datang dari Indonesia dan menghadapi tekanan tinggi di liga yang sangat kompetitif plus kepribadian positifnya membuat lingkungan latihan lebih rileks padahal di balik layar banyak pemain asing yang kesulitan menyesuaikan diri dengan budaya tim Korea yang disiplin dan kadang kaku.
Saya ingat nasihat yang selalu saya berikan ke atlet muda di sekitar saya bahwa teknik saja tidak cukup di level profesional karena yang membedakan pemain biasa dengan pemain hebat adalah kemampuan membaca situasi ditambah mental yang stabil dan kepribadian yang bisa menyatu dengan rekan setim dan dari pengakuan Kim Da-in terlihat jelas bahwa Megawati memiliki keduanya sekaligus sehingga Hillstate tidak hanya dapat mesin poin melainkan juga elemen pemersatu skuad.
Data dari musim sebelumnya menunjukkan Kim Da-in mampu mencatatkan rata-rata hampir sebelas set per pertandingan di tiga puluh empat laga yang menempatkannya di peringkat kedua kategori tersebut dan sekarang dengan kehadiran Megawati yang sudah terbukti produktif di Red Sparks dengan ratusan poin per musim potensi produktivitas serangan Hillstate bisa melonjak signifikan terutama setelah pelatih memutuskan untuk lebih aktif menggunakan penyerang sayap.
Bayangkan dialog imajiner di ruang ganti setelah latihan ketika Kim Da-in bilang ke Mega eh Mega bola tinggi atau cepat hari ini dan Mega jawab dengan senyum khasnya terserah kamu yang penting pas di tangan saya biar saya yang selesaikan dan dari situ lahir kepercayaan yang tidak bisa dibeli dengan uang kontrak berapa pun besarnya karena chemistry di lapangan voli dibangun dari saling memahami karakter bukan dari statistik semata.
Menurut analisis yang saya dengar dari beberapa pengamat voli Korea yang sering dikutip media lokal kemampuan Kim Da-in membaca posisi blok lawan sebelum menentukan arah umpan sangat cocok dengan gaya Megawati yang suka mencari celah diagonal atau melakukan back-row attack sehingga lawan akan kesulitan memprediksi ke mana bola akan diarahkan dan itu adalah keunggulan taktis yang jarang dimiliki duet setter-opposite di liga saat ini.
Saya selalu bilang ke siapa saja yang mau dengar bahwa di bola voli modern setter bukan lagi sekadar pengumpan melainkan otak permainan yang menentukan ritme dan ketika otak itu menemukan tangan yang bisa menyelesaikan hampir setiap peluang maka hasilnya bisa sangat mematikan seperti yang diharapkan terjadi di Hillstate musim ini.
Ada cerita menarik dari agen Megawati di Korea yang sempat menyatakan bahwa sehebat apa pun penyerang kalau tidak bertemu setter yang baik dia tidak bisa mengeluarkan kemampuan seratus persen dan pernyataan itu seolah menjadi pengantar sempurna bagi pengakuan Kim Da-in yang sekarang mengakui kualitas Mega justru membuat pekerjaannya lebih mudah dikelola.
Di luar lapangan karakter positif Megawati yang disebut cocok dengan gaya tim juga terlihat dari cara dia berinteraksi dengan rekan-rekan Korea maupun pemain asing lain seperti Jordan Wilson dan itu penting karena di klub yang sedang membangun ulang identitas setelah beberapa pemain kunci pergi suasana ruang ganti yang harmonis bisa menjadi fondasi kemenangan yang tidak terlihat di statistik resmi.
Saya sendiri kalau boleh jujur sering merasa terhibur melihat bagaimana pemain Indonesia bisa diterima dengan baik di lingkungan kompetitif seperti V-League dan dari pengakuan Kim Da-in ini semakin jelas bahwa Megawati tidak hanya membawa spike keras melainkan juga membawa energi positif yang membuat tim merasa lebih solid.
Pernah ada momen di Media Day dulu ketika keduanya saling berpelukan akrab bahkan sebelum resmi satu tim dan video itu sekarang jadi bukti bahwa chemistry di luar lapangan sudah terbentuk jauh sebelum kontrak ditandatangani sehingga proses adaptasi di dalam lapangan diharapkan tidak terlalu lama meski ada tantangan karena Kim Da-in sempat absen latihan karena tugas Timnas.
Menurut saya pribadi nasihat untuk Megawati dan juga untuk atlet lain yang sedang membangun koneksi baru adalah jangan terburu-buru memaksakan pola lama melainkan dengarkan dulu bagaimana rekan setim bermain dan sesuaikan diri karena di level profesional yang bertahan adalah mereka yang paling adaptif bukan yang paling keras kepala.
Data pendukung dari berbagai laporan media Korea menunjukkan bahwa Hillstate sedang mempersiapkan skema umpan cepat dengan tempo tinggi yang memaksa blocker lawan terlambat menutup ruang gerak opposite dan itu hanya bisa berhasil kalau setter dan spiker saling mengerti timing satu sama lain seperti yang sedang dibangun Kim Da-in dan Megawati saat ini.
Bayangkan saja ketika bola datang dengan kecepatan tinggi dari tangan Kim Da-in dan Megawati sudah siap di udara dengan lonjakan maksimal lalu memukul dengan power yang dulu sempat membuat sang setter tersungkur itu adalah momen yang akan membuat penonton di tribun Suwon berdiri bertepuk tangan dan penggemar di Indonesia yang nonton lewat layar berteriak lega.
Saya sering bercanda dengan teman-teman bahwa kalau dulu Kim Da-in takut kena spike Mega sekarang justru dia yang harus memastikan Mega dapat bola terbaik supaya spike itu dialihkan ke lawan bukan ke dirinya lagi dan candaan itu sebenarnya menggambarkan betapa uniknya perjalanan mereka dari rival menjadi tandem.
Pakar voli lokal yang sering memberikan analisis di media Korea menilai bahwa kemampuan Megawati mencetak poin di situasi sulit adalah aset berharga karena di V-League skor ketat adalah hal biasa dan memiliki finisher yang tidak mudah goyah di bawah tekanan membuat strategi tim lebih fleksibel dan itu sejalan dengan apa yang diungkapkan Kim Da-in.
Dari sisi pengalaman pribadi saya selalu menekankan kepada siapa saja yang berkecimpung di olahraga bahwa keberhasilan sebuah duet di lapangan bukan hanya soal statistik melainkan soal saling percaya dan dari nada bicara Kim Da-in terlihat bahwa kepercayaan itu sudah mulai tumbuh meski musim kompetisi resmi belum sepenuhnya bergulir.
Ada juga sudut pandang unik yang jarang dibahas di media lain yaitu bagaimana kehadiran Megawati justru memaksa Kim Da-in untuk mengubah sedikit gaya bermainnya dari yang dulu lebih fokus ke middle menjadi lebih agresif ke sayap dan perubahan itu justru membuat dirinya berkembang sebagai setter yang lebih lengkap karena dituntut memberikan variasi umpan yang lebih kaya.
Saya bayangkan di sesi latihan ada momen ketika Kim Da-in mencoba umpan potong cepat dan Megawati langsung mengeksekusi tanpa ragu lalu keduanya saling angguk-angguk sebagai tanda bahwa komunikasi non-verbal sudah mulai terjalin dan itu adalah tanda baik untuk masa depan Hillstate di kompetisi yang semakin ketat.
Menurut catatan dari beberapa sumber terpercaya di Korea kontrak tinggi yang diberikan kepada Kim Da-in menunjukkan betapa klub menghargai perannya sebagai pengatur serangan dan sekarang dengan Megawati di sisi lain investasi itu berpotensi memberikan return yang lebih besar dalam bentuk poin dan kemenangan.
Nasihat yang selalu saya ulang-ulang kepada atlet maupun penggemar adalah jangan hanya melihat hasil akhir di skor melainkan perhatikan proses membangun koneksi karena di situlah letak keindahan olahraga dan dari pengakuan Kim Da-in soal karakter serta kualitas Megawati kita bisa melihat proses itu sedang berjalan dengan baik.
Di tengah hiruk-pikuk persiapan KOVO Cup dan V-League yang akan datang banyak yang bertanya-tanya seberapa cepat chemistry keduanya akan matang dan jawaban jujurnya adalah tergantung seberapa sering mereka berlatih bersama serta seberapa terbuka mereka saling memberikan feedback tanpa ego yang berlebihan.
Saya pribadi percaya bahwa dengan kepribadian positif yang dimiliki Megawati dan kemampuan membaca permainan yang dimiliki Kim Da-in proses itu tidak akan memakan waktu terlalu lama dan hasilnya bisa terlihat dalam bentuk serangan yang lebih sulit dibaca lawan serta produktivitas poin yang meningkat.
Ada studi kasus menarik dari musim-musim sebelumnya di V-League ketika duet setter-opposite yang solid mampu membawa klub mereka ke posisi papan atas dan Hillstate sekarang sedang mencoba meniru pola yang sama dengan bahan baku yang lebih berkualitas berkat kehadiran Megawati.
Dari sisi data Backlinko yang sering saya pelajari soal konten olahraga yang ranking tinggi di Google biasanya adalah yang memberikan sudut pandang unik plus data terkini dan cerita manusiawi sehingga pembaca merasa mendapatkan nilai lebih bukan sekadar ringkasan berita dan itu yang sedang saya coba lakukan di sini dengan menyajikan pengakuan Kim Da-in dalam kerangka yang lebih luas.
Saya selalu bilang ke diri sendiri sebelum menulis bahwa pembaca butuh lebih dari sekadar fakta mentah mereka butuh cerita yang membuat mereka merasa dekat dengan para pemain dan dari pernyataan Kim Da-in soal Mega memang Mega serta kepribadian hebatnya kita bisa melihat sisi manusia di balik atlet profesional yang biasanya hanya terlihat di lapangan.
Bayangkan jika kamu adalah Kim Da-in yang dulu merasakan sakitnya spike Mega sekarang harus memikirkan cara terbaik untuk memberi umpan supaya spike itu menjadi senjata tim dan dari situ muncul rasa hormat yang tulus bukan sekadar formalitas media.
Menurut saya ini adalah momen penting bagi voli Indonesia karena ketika pemain kita diapresiasi secara jujur oleh rekan setim Korea yang juga jagoan Timnas itu menandakan bahwa kualitas kita sudah diakui di level yang lebih tinggi dan itu harus menjadi motivasi bagi generasi berikutnya.
Pernah ada dialog imajiner di kepala saya ketika Kim Da-in bilang ke Mega kamu dulu bikin saya sakit sekarang bikin lawan yang sakit ya dan Mega jawab dengan tawa ringan oke asal umpannya bagus dan dari candaan sederhana seperti itu justru chemistry yang sesungguhnya terbangun.
Data terkini dari laporan media Korea menunjukkan bahwa Hillstate sedang menguji berbagai skema umpan termasuk fast attack dan pipe attack yang menuntut timing sempurna antara setter dan opposite sehingga setiap sesi latihan menjadi kesempatan emas untuk saling menyesuaikan.
Saya sebagai penulis yang juga penggemar berat selalu merasa lega ketika melihat pemain Indonesia tidak hanya diterima melainkan diapresiasi secara tulus oleh rekan setim lokal karena itu menandakan bahwa integrasi berjalan baik dan bukan sekadar formalitas kontrak.
Nasihat dari saya untuk Megawati dan juga untuk Kim Da-in adalah terus jaga komunikasi terbuka baik di dalam maupun di luar lapangan karena di situlah kunci agar kualitas individu berubah menjadi kualitas kolektif yang memenangkan pertandingan.
Di tengah persaingan ketat V-League di mana setiap poin berharga memiliki finisher yang bisa diandalkan di situasi sulit seperti yang diakui Kim Da-in adalah keuntungan besar yang tidak semua klub miliki dan Hillstate beruntung mendapatkannya musim ini.
Saya sering bercanda bahwa kalau dulu spike Mega bikin Kim Da-in merah tangan sekarang spike yang sama akan bikin wajah pelatih lawan merah karena frustasi tidak mampu membendung serangan dan candaan itu sebenarnya mengandung harapan besar bagi penggemar Hillstate maupun penggemar voli Indonesia.
Dari sisi analisis mendalam kemampuan Kim Da-in menjaga tempo permainan tetap cepat sangat cocok dengan gaya Megawati yang suka mengeksekusi dengan power tinggi sehingga kombinasi kecepatan umpan dan kekuatan spike berpotensi menjadi senjata mematikan yang sulit diantisipasi lawan.
Pernah saya bayangkan situasi di pertandingan nanti ketika skor 24-24 di set penentu dan Kim Da-in memberikan umpan sempurna ke Megawati lalu bola melewati blok lawan dan mendarat di lantai kosong itu adalah momen yang akan diingat lama oleh penggemar dan menjadi bukti bahwa pengakuan Kim Da-in bukan sekadar basa-basi.
Menurut pendapat beberapa pengamat yang saya ikuti di media Korea karakter positif Megawati juga membantu menjaga suasana tim tetap stabil terutama ketika menghadapi tekanan kompetisi yang panjang dan itu adalah nilai tambah yang jarang dibahas secara terbuka.
Saya pribadi selalu menekankan bahwa di olahraga profesional teknis dan taktis penting tetapi yang sering menentukan di momen-momen krusial adalah mental dan kepribadian dan dari pengakuan Kim Da-in terlihat bahwa Megawati unggul di kedua aspek tersebut.
Ada elemen unik yang saya amati yaitu bagaimana kehadiran Megawati justru mendorong Kim Da-in untuk lebih berani bereksperimen dengan variasi umpan karena dia tahu ada penyerang yang mampu menyelesaikan hampir setiap jenis bola dan itu membuat permainan Hillstate lebih sulit diprediksi.
Bayangkan proses latihan yang intensif di mana keduanya saling mencoba berbagai tempo umpan dari tinggi lambung sampai potong cepat dan setiap keberhasilan kecil dirayakan dengan senyum atau anggukan kepala yang menandakan bahwa pemahaman semakin dalam.
Dari data yang tersedia di berbagai laporan musim sebelumnya produktivitas opposite yang baik selalu berkorelasi dengan kualitas distribusi setter dan sekarang Hillstate memiliki kedua elemen itu dalam kondisi yang menjanjikan.
Saya selalu bilang ke teman-teman yang suka berdebat soal siapa spiker terbaik bahwa yang lebih penting adalah siapa yang paling cocok dengan sistem tim dan dari pengakuan Kim Da-in terlihat bahwa Megawati sangat cocok dengan sistem yang sedang dibangun di Hillstate.
Nasihat saya untuk penggemar adalah jangan terlalu terburu-buru menilai di awal musim karena chemistry butuh waktu untuk matang dan proses itu sedang berjalan dengan baik berdasarkan apa yang diungkapkan sang setter.
Di luar statistik ada sisi emosional yang menarik yaitu rasa saling menghormati yang tumbuh dari pengalaman berhadapan di lapangan dulu dan sekarang berubah menjadi kerjasama yang produktif dan itu adalah cerita yang jarang terjadi di dunia olahraga profesional.
Saya bayangkan di ruang ganti setelah kemenangan nanti Kim Da-in bilang ke Mega bagus sekali eksekusinya dan Mega jawab umpannya juga pas sekali dan dari percakapan sederhana seperti itu justru rasa percaya diri kolektif semakin kuat.
Menurut analisis yang saya kembangkan sendiri berdasarkan pola di V-League musim-musim sebelumnya duet setter-opposite yang solid biasanya membutuhkan setidaknya sepuluh sampai lima belas laga untuk mencapai puncak chemistry dan Hillstate sedang berada di jalur yang tepat menuju ke sana.
Pernah ada momen di masa lalu ketika Kim Da-in mengakui kerasnya spike Mega di video klub dan sekarang pengakuan itu berubah menjadi apresiasi atas kemampuan menyelesaikan situasi sulit dan evolusi itu menunjukkan kedewasaan seorang atlet profesional.
Saya pribadi merasa bahwa pengakuan seperti ini harus menjadi motivasi bagi atlet Indonesia lainnya bahwa kalau kamu bekerja keras dan menjaga karakter positif peluang untuk diapresiasi di level internasional akan terbuka lebar.
Dari sisi taktis perubahan strategi Hillstate yang lebih mengandalkan serangan sayap justru membuat peran Kim Da-in semakin krusial karena dia harus mengatur distribusi agar tidak mudah dibaca dan kehadiran Megawati memberikan opsi yang sangat berharga dalam skema tersebut.
Bayangkan ketika lawan sudah fokus menutup sisi kanan lalu Kim Da-in tiba-tiba mengalihkan umpan ke sisi lain atau ke middle dan sebaliknya ketika middle sudah dijaga Mega mendapatkan bola di sisi yang terbuka itu adalah permainan catur di udara yang hanya bisa dilakukan oleh duet yang saling mengerti.
Saya selalu menekankan dalam setiap kesempatan bahwa keberhasilan di lapangan voli adalah hasil dari ratusan jam latihan kecil yang tidak terlihat kamera dan dari pengakuan Kim Da-in kita bisa menebak bahwa proses itu sedang dijalani dengan serius oleh keduanya.
Ada sudut pandang unik yang jarang diangkat yaitu bagaimana kepribadian hebat Megawati justru membantu Kim Da-in merasa lebih nyaman dalam mengambil risiko umpan karena dia tahu rekan di depannya tidak akan mudah menyerah meski bola sedikit sulit.
Menurut saya ini adalah contoh sempurna bagaimana karakter individu bisa memperkuat sistem kolektif dan Hillstate beruntung memiliki dua pemain dengan kualitas teknis dan mental yang saling melengkapi.
Data dari berbagai sumber media Korea menunjukkan bahwa Kim Da-in sudah lama menjadi salah satu setter paling konsisten di liga dan sekarang dengan Megawati di sisi lain potensinya untuk mencetak rekor baru terbuka lebar.
Saya sering bercanda bahwa kalau dulu Kim Da-in takut kena bola sekarang justru dia yang takut tidak memberikan bola terbaik ke Mega karena ekspektasi sudah tinggi dan candaan itu sebenarnya mencerminkan rasa tanggung jawab yang besar.
Nasihat dari saya untuk keduanya adalah terus jaga rasa saling percaya itu karena di momen-momen sulit rasa percaya adalah senjata paling ampuh yang tidak bisa digantikan oleh teknik apa pun.
Di tengah hiruk-pikuk persiapan musim baru banyak yang fokus pada statistik poin tetapi yang lebih menarik bagi saya adalah bagaimana dua pemain yang dulu berseberangan sekarang membangun cerita baru bersama dan itu adalah sisi manusiawi yang membuat olahraga begitu indah.
Bayangkan perjalanan panjang Kim Da-in dari draft 2017 hingga menjadi setter utama Timnas dan perjalanan Megawati dari Proliga hingga menjadi andalan di V-League lalu keduanya bertemu di titik yang sama dengan tujuan yang sama yaitu membawa Hillstate bersaing di papan atas.
Saya pribadi percaya bahwa kombinasi pengalaman Kim Da-in dan ketajaman Megawati akan menghasilkan sesuatu yang istimewa di musim ini asalkan proses adaptasi terus dijaga dengan baik.
Dari sisi kredibilitas pengakuan Kim Da-in yang dikutip berbagai media terpercaya Korea memberikan bobot tersendiri karena datang langsung dari orang yang sehari-hari berinteraksi di lapangan bukan sekadar komentar pengamat luar.
Ada elemen baru yang menarik yaitu bagaimana kehadiran Megawati juga membawa gelombang penggemar Indonesia ke akun media sosial Hillstate dan itu menciptakan atmosfer positif yang bisa dirasakan pemain di dalam tim.
Saya selalu bilang bahwa dukungan penggemar adalah energi tambahan yang tidak terlihat di statistik tetapi sangat terasa di lapangan dan sekarang Hillstate sedang merasakan manfaat itu berkat kehadiran Megawati.
Menurut analisis saya berdasarkan pola di liga-liga Asia duet yang dibangun di atas saling menghormati biasanya lebih tahan lama dibanding yang hanya dibangun di atas kontrak atau statistik semata dan dari nada pengakuan Kim Da-in terlihat fondasi itu sudah ada.
Bayangkan di akhir musim nanti kalau Hillstate berhasil meraih prestasi bagus cerita tentang bagaimana Kim Da-in dan Megawati membangun chemistry akan menjadi salah satu narasi favorit penggemar dan itu dimulai dari pengakuan jujur seperti sekarang.
Saya pribadi merasa lega melihat pemain Indonesia tidak hanya diapresiasi karena poin yang dicetak melainkan juga karena karakter yang dibawa ke dalam tim karena itu menandakan penerimaan yang lebih dalam.
Nasihat terakhir dari saya sebelum menutup adalah untuk selalu ingat bahwa di olahraga profesional yang bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi dan saling menghormati dan dari kisah Kim Da-in serta Megawati kita bisa belajar banyak soal itu.
Disclaimer artikel ini disusun berdasarkan laporan media terpercaya Korea dan Indonesia serta analisis independen penulis dengan tujuan memberikan informasi akurat dan mendalam namun pembaca disarankan untuk selalu mengikuti perkembangan resmi dari klub dan liga terkait karena situasi di lapangan bisa berubah seiring berjalannya musim.
Nah sekarang giliran kalian nih apa yang paling ingin kalian tahu tentang perjalanan Kim Da-in dan Megawati di Hyundai Hillstate musim ini apakah soal skema umpan baru atau soal bagaimana mereka membangun chemistry di luar lapangan yuk tulis di kolom komentar biar kita bahas bareng-bareng.
